SURAH AL KAHFI RUMI (Transliterasi)

surah al kahfi rumi

Ini adalah panduan Surah Al Kahfi Rumi (transliterasi)

Anda akan dibimbing secara lengkap bacaan surah ini secara ayat demi ayat. Bantuan audio juga disediakan.

Semoga membantu..

Pengenalan

Surah Al-Kahfi terdiri daripada 110 ayat.

Surah ini termasuk dalam kumpulan surah-surah Makkiyyah.

Dinamakan Al-Kahfi yang ertinya Gua dan Ashhabul Kahfi yang ertinya “Penghuni-penghuni gua”.

Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surah ini, yang kesemuanya mengandung iktibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.

Banyak hadist-hadist Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Ayat-Ayat Penting

Terdapat beberapa intipati penting yang terdapat dalam surah ini. Antaranya:

Ayat-ayat berkaitan keimanan:

  • Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan. [Ayat 9-12]
  • Dasar-dasar tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berubah untuk se­lama-lamanya. [Ayat 27]
  • Kalimat-kalimat Allah (ilmu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya. [Ayat 109]
  • Kepastian datangnya hari berbangkit. [Ayat 47-49]
  • Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan. [Ayat 1-2]

Ayat-ayat berkaitan hukum:

  • Dasar hukum wakalah (berwakil). [Ayat 19]
  • Larangan membangun tempat ibadah di atas kubur. [Ayat 21]
  • Hukum membaca “Insya Allah”. [Ayat 23-24]
  • Perbuatan salah yang dilakukan kerana lupa adalah dimaafkan. [Ayat 24]
  • Kebolehan merosak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar. [Ayat 71 dan 79]

Kisah-kisah:

  • Cerita Ashabul Kahfi. [Ayat 9-22] dan [Ayat 25-26]
  • Cerita dua orang lelaki yang seorang kafir dan yang seorang lagi mukmin. [Ayat 32-44]
  • Cerita Nabi Musa alaihissalam dengan Khidhr alaihissalam. [Ayat 60-82]
  • Cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj. [Ayat 83-98]

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surah ini antara lain:

  • Tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada-Nya.
  • Kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu).
  • Adab sopan-santun antara murid dengan guru.
  • Beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat.
  • Perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Bacaan Surah Al Kahfi Rumi (Transliterasi)

Dimulakan bacaan Surah al Kahfi dengan Bismillah

basmala
1.
Surah al kahfi ayat 1

al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj‘al lahū ‘iwajā

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok;


2.
Surah al kahfi ayat 2

qayyimal liyunżira ba’san syadīdam mil ladunhu wa yubasysyiral-mu’minīnallażīna ya‘malūnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanā

sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik,


3.
Surah al kahfi ayat 3

mākiṡīna fīhi abadā

mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.


4.
Surah al kahfi ayat 4

wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladā

Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.”


5.
Surah al kahfi ayat 5

mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā li’ābā’ihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqūlūna illā każibā

Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.


6.
Surah al kahfi ayat 6

fa la‘allaka bākhi‘un nafsaka ‘alā āṡārihim illam yu’minū bihāżal-ḥadīṡi asafā

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu kerana bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).


7.
Surah al kahfi ayat 7

innā ja‘alnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalā

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.


8.
Surah al kahfi ayat 8

wa innā lajā‘ilūna mā ‘alaihā ṣa‘īdan juruzā

Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering.


9.
Surah al kahfi ayat 9

am ḥasibta anna aṣḥābal-kahfi war-raqīmi kānū min āyātinā ‘ajabā

Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua, dan (yang mempunyai) raqim itu, termasuk tanda-tanda (kebesaran) Kami yang menakjubkan?


10.
Surah al kahfi ayat 10

iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālū rabbanā ātinā mil ladunka raḥmataw wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”


11.
Surah al kahfi ayat 11

fa ḍarabnā ‘alā āżānihim fil-kahfi sinīna ‘adadā

Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun.


12.
Surah al kahfi ayat 12

ṡumma ba‘aṡnāhum lina‘lama ayyul-ḥizbaini aḥṣā limā labiṡū amadā

Kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui manakah di antara ke dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).


13.
Surah al kahfi ayat 13

naḥnu naquṣṣu ‘alaika naba’ahum bil-ḥaqq, innahum fityatun āmanū birabbihim wa zidnāhum hudā

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.


14.
Surah al kahfi ayat 14

wa rabaṭnā ‘alā qulūbihim iż qāmū fa qālū rabbunā rabbus-samāwāti wal-arḍi lan nad‘uwa min dūnihī ilāhal laqad qulnā iżan syaṭaṭā

Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”


15.
Surah al kahfi ayat 15

hā’ulā’i qaumunattakhażū min dūnihī ālihah, lau lā ya’tūna ‘alaihim bisulṭānim bayyin, fa man aẓlamu mim maniftarā ‘alallāhi każibā

Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?


16.
Surah al kahfi ayat 16

wa iżi‘tazaltumūhum wa mā ya‘budūna illallāha fa’wū ilal-kahfi yansyur lakum rabbukum mir raḥmatihī wa yuhayyi’ lakum min amrikum mirfaqā

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.


17.
Surah al kahfi ayat 17

wa tarasy-syamsa iżā ṭala‘at tazāwaru ‘an kahfihim żātal-yamīni wa iżā garabat taqriḍuhum żātasy-syimāli wa hum fī fajwatim minh, żālika min āyātillāh, may yahdillāhu fa huwal-muhtadi wa may yuḍlil fa lan tajida lahū waliyyam mursyidā

Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.


18.
Surah al kahfi ayat 18

wa taḥsabuhum aiqāẓaw wa hum ruqūduw wa nuqallibuhum żātal-yamīni wa żātasy-syimāli wa kalbuhum bāsiṭun żirā‘aihi bil-waṣīd, lawiṭṭala‘ta ‘alaihim lawallaita minhum firāraw wa lamuli’ta minhum ru‘bā

Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur; dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.


19.
Surah al kahfi ayat 19

wa każālika ba‘aṡnāhum liyatasā’alū bainahum, qāla qā’ilum minhum kam labiṡtum, qālū labiṡnā yauman au ba‘ḍa yaūm, qālū rabbukum a‘lamu bimā labiṡtum, fab‘aṡū aḥadakum biwariqikum hāżihī ilal-madīnati falyanẓur ayyuhā azkā ṭa‘āman falya’tikum birizqim minhu walyatalaṭṭaf wa lā yusy‘iranna bikum aḥadā

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.


20.
Surah al kahfi ayat 20

innahum iy yaẓharū ‘alaikum yarjumūkum au yu‘īdūkum fī millatihim wa lan tufliḥū iżan abadā

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”


21.
Surah al kahfi ayat 21

wa każālika a‘ṡarnā ‘alaihim liya‘lamū anna wa‘dallāhi ḥaqquw wa annas-sā‘ata lā raiba fīhā, iż yatanāza‘ūna bainahum amrahum fa qālubnū ‘alaihim bun-yānā, rabbuhum a‘lamu bihim, qālallażīna galabū ‘alā amrihim lanattakhiżanna ‘alaihim masjidā

Dan demikian (pula) Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar, dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.”


22.
Surah al kahfi ayat 22

sayaqūlūna ṡalāṡatur rābi‘uhum kalbuhum, wa yaqūlūna khamsatun sādisuhum kalbuhum rajmam bil-gaīb, wa yaqūlūna sab‘atuw wa ṡāminuhum kalbuhum, qur rabbī a‘lamu bi‘iddatihim mā ya‘lamuhum illā qalīl, fa lā tumāri fīhim illā mirā’an ẓāhiraw wa lā tastafti fīhim minhum aḥadā

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang), yang ke empat adalah anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang), yang ke enam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang ke delapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Kerana itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun.


23.
Surah al kahfi ayat 23

wa lā taqūlanna lisyai’in innī fā‘ilun żālika gadā

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,”


24.
Surah al kahfi ayat 24

illā ay yasyā’allāhu ważkur rabbaka iżā nasīta wa qul ‘asā ay yahdiyani rabbī li’aqraba min hāżā rasyadā

kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.”


25.
Surah al kahfi ayat 25

wa labiṡū fī kahfihim ṡalāṡa mi’atin sinīna wazdādū tis‘ā

Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.


26.
Surah al kahfi ayat 26

qulillāhu a‘lamu bimā labiṡū, lahū gaibus-samāwāti wal-arḍ, abṣir bihī wa asmi‘, mā lahum min dūnihī miw waliyy, wa lā yusyriku fī ḥukmihī aḥadā

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”


27.
Surah al kahfi ayat 27

watlu mā ūḥiya ilaika min kitābi rabbik, lā mubaddila likalimātih, wa lan tajida min dūnihī multaḥadā

Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.


28.
Surah al kahfi ayat 28

waṣbir nafsaka ma‘allażīna yad‘ūna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdūna wajhahū wa lā ta‘du ‘aināka ‘anhum, turīdu zīnatal-ḥayātid-dun-yā, wa lā tuṭi‘ man agfalnā qalbahū ‘an żikrinā wattaba‘a hawāhu wa kāna amruhū furuṭā

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.


29.
Surah al kahfi ayat 29

wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum, fa man syā’a falyu’miw wa man syā’a falyakfur, innā a‘tadnā liẓ-ẓālimīna nāran aḥāṭa bihim surādiquhā, wa iy yastagīṡū yugāṡū bimā’in kal-muhli yasywil-wujūh, bi’sasy-syarāb, wa sā’at murtafaqā

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.


30.
Surah al kahfi ayat 30

innallażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti innā lā nuḍī‘u ajra man aḥsana ‘amalā

Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.


31.
Surah al kahfi ayat 31

ulā’ika lahum jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihimul-anhāru yuḥallauna fīhā min asāwira min żahabiw wa yalbasūna ṡiyāban khuḍram min sundusiw wa istabraqim muttaki’īna fīhā ‘alal-arā’ik, ni‘maṡ-ṡawāb, wa ḥasunat murtafaqā

Mereka itulah yang memperoleh Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.


32.
Surah al kahfi ayat 32

waḍrib lahum maṡalar rajulaini ja‘alnā li’aḥadihimā jannataini min a‘nābiw wa ḥafafnāhumā binakhliw wa ja‘alnā bainahumā zar‘ā

Dan berikanlah (Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang (yang kafir) Kami beri dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara keduanya (kebun itu) Kami buatkan ladang.


33.
Surah al kahfi ayat 33

kiltal-jannataini ātat ukulahā wa lam taẓlim minhu syai’aw wa fajjarnā khilālahumā naharā

Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun, dan di celah-celah kedua kebun itu Kami alirkan sungai,


34.
Surah al kahfi ayat 34

wa kāna lahū ṡamar, fa qāla liṣāḥibihī wa huwa yuḥāwiruhū ana akṡaru minka mālaw wa a‘azzu nafarā

dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”


35.
Surah al kahfi ayat 35

wa dakhala jannatahū wa huwa ẓālimul linafsih, qāla mā aẓunnu an tabīda hāżihī abadā

Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri (kerana angkuh dan kafir); dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,


36.
Surah al kahfi ayat 36

wa mā aẓunnus-sā‘ata qā’imataw wa la’ir rudittu ilā rabbī la’ajidanna khairam minhā munqalabā

dan aku kira hari Kiamat itu tidak akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada ini.”


37.
Surah al kahfi ayat 37

qāla lahū ṣāḥibuhū wa huwa yuḥāwiruhū akafarta billażī khalaqaka min turābin ṡumma min nuṭfatin ṡumma sawwāka rajulā

Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan engkau dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna?


38.
Surah al kahfi ayat 38

lākinna huwallāhu rabbī wa lā usyriku birabbī aḥadā

Tetapi aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.


39.
Surah al kahfi ayat 39

wa lau lā iż dakhalta jannataka qulta mā syā’allāhu lā quwwata illā billāh, in tarani ana aqalla minka mālaw wa waladā

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.


40.
Surah al kahfi ayat 40

fa ‘asā rabbī ay yu’tiyani khairam min jannatika wa yursila ‘alaihā ḥusbānam minas-samā’i fa tuṣbiḥa ṣa‘īdan zalaqā

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu (ini); dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu, sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin,


41.

au yuṣbiḥa mā’uhā gauran fa lan tastaṭī‘a lahū ṭalabā

atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.”


42.

wa uḥīṭa biṡamarihī fa aṣbaḥa yuqallibu kaffaihi ‘alā mā anfaqa fīhā wa hiya khāwiyatun ‘alā ‘urūsyihā wa yaqūlu yā laitanī lam usyrik birabbī aḥadā

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur roboh bersama penyangganya (para-para) lalu dia berkata, “Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”


43.

wa lam takul lahū fi’atuy yanṣurūnahū min dūnillāhi wa mā kāna muntaṣirā

Dan tidak ada (lagi) baginya segolongan pun yang dapat menolongnya selain Allah; dan dia pun tidak akan dapat membela dirinya.


44.

hunālikal-walāyatu lillāhil-ḥaqq, huwa khairun ṡawābaw wa khairun ‘uqbā

Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah Yang Mahabenar. Dialah (pemberi) pahala terbaik dan (pemberi) balasan terbaik.


45.

waḍrib lahum maṡalal-ḥayātid-dun-yā kamā’in anzalnāhu minas-samā’i fakhtalaṭa bihī nabātul-arḍi fa aṣbaḥa hasyīman tażrūhur-riyāḥ, wa kānallāhu ‘alā kulli syai’im muqtadirā

Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.


46.

al-mālu wal-banūna zīnatul-ḥayātid-dun-yā, wal-bāqiyātuṣ-ṣāliḥātu khairun ‘inda rabbika ṡawābaw wa khairun amalā

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.


47.

wa yauma nusayyirul-jibāla wa taral-arḍa bārizataw wa ḥasyarnāhum fa lam nugādir minhum aḥadā

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.


48.

wa ‘uriḍū ‘alā rabbika ṣaffā, laqad ji’tumūnā kamā khalaqnākum awwala marratim bal za‘amtum allan naj‘ala lakum mau‘idā

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.”


49.

wa wuḍi‘al kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqūlūna yā wailatanā mā lihāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadū mā ‘amilū ḥāḍirā, wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.


50.

wa iż qulnā lil-malā’ikatisjudū li’ādama fa sajadū illā iblīs, kāna minal-jinni fa fasaqa ‘an amri rabbih, afa tattakhiżūnahū wa żurriyyatahū auliyā’a min dūnī wa hum lakum ‘aduww, bi’sa liẓ-ẓālimīna badalā

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim.


51.

mā asyhattuhum khalqas-samāwāti wal-arḍi wa lā khalqa anfusihim wa mā kuntu muttakhiżal-muḍillīna ‘aḍudā

Aku tidak menghadirkan mereka (Iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.


52.

wa yauma yaqūlu nādū syurakā’iyallażīna za‘amtum fa da‘auhum fa lam yastajībū lahum wa ja‘alnā bainahum maubiqā

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Dia berfirman, “Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu.” Mereka lalu memanggilnya, tetapi mereka (sekutu-sekutu) tidak membalas (seruan) mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka).


53.

wa ra’al-mujrimūnan-nāra fa ẓannū annahum muwāqi‘ūhā wa lam yajidū ‘anhā maṣrifā

Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya.


54.

wa laqad ṣarrafnā fī hāżal-qur’āni lin-nāsi min kulli maṡal, wa kānal-insānu akṡara syai’in jadalā

Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah.


55.

wa mā mana‘an-nāsa ay yu’minū iż jā’ahumul-hudā wa yastagfirū rabbahum illā an ta’tiyahum sunnatul-awwalīna au ya’tiyahumul-‘ażābu qubulā

Dan tidak ada (sesuatu pun) yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk telah datang kepada mereka dan memohon ampunan kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat yang terdahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.


56.

wa mā nursilul-mursalīna illā mubasysyirīna wa munżirīn, wa yujādilullażīna kafarū bil-bāṭili liyudḥiḍū bihil-ḥaqqa wattakhażū āyātī wa mā unżirū huzuwā

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran), dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan.


57.

wa man aẓlamu mim man żukkira bi āyāti rabbihī fa a‘raḍa ‘anhā wa nasiya mā qaddamat yadāh, innā ja‘alnā ‘alā qulūbihim akinnatan ay yafqahūhu wa fī āżānihim waqrā, wa in tad‘uhum ilal-hudā fa lay yahtadū iżan abadā

Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau (Muhammad) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya.


58.

wa rabbukal-gafūru żur-raḥmah, lau yu’ākhiżuhum bimā kasabū la‘ajjala lahumul-‘ażāb, bal lahum mau‘idul lay yajidū min dūnihī mau’ilā

Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. Jika Dia hendak menyiksa mereka kerana perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa) yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung dari-Nya.


59.

wa tilkal-qurā ahlaknāhum lammā ẓalamū wa ja‘alnā limahlikihim mau‘idā

Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.


60.

wa iż qāla mūsā lifatāhu lā abraḥu ḥattā abluga majma‘al-baḥraini au amḍiya ḥuqubā

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”


61.

fa lammā balagā majma‘a bainihimā nasiyā ḥūtahumā fattakhaża sabīlahū fil-baḥri sarabā

Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.


62.

fa lammā jāwazā qāla lifatāhu ātinā gadā’anā laqad laqīnā min safarinā hāżā naṣabā

Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini.”


63.

qāla ara’aita iż awainā ilaṣ-ṣakhrati fa innī nasītul-ḥūta wa mā ansānīhu illasy-syaiṭānu an ażkurah, wattakhaża sabīlahū fil-baḥri ‘ajabā

Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”


64.

qāla żālika mā kunnā nabgi fartaddā ‘alā āṡārihimā qaṣaṣā

Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.


65.

fa wajadā ‘abdam min ‘ibādinā ātaināhu raḥmatam min ‘indinā wa ‘allamnāhu mil ladunnā ‘ilmā

Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.


66.

qāla lahū mūsā hal attabi‘uka ‘alā an tu‘allimani mimmā ‘ullimta rusydā

Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”


67.

qāla innaka lan tastaṭī‘a ma‘iya ṣabrā

Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.


68.

wa kaifa taṣbiru ‘alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā

Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”


69.

wa kaifa taṣbiru ‘alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā

Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”


70.

qāla fa inittaba‘tanī fa lā tas’alnī ‘an syai’in ḥattā uḥdiṡa laka minhu żikrā

Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”


71.

fanṭalaqā, ḥattā iżā rakibā fis-safīnati kharaqahā, qāla akharaqtahā litugriqa ahlahā, laqad ji’ta syai’an imrā

Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”


72.

qāla alam aqul innaka lan tastaṭī‘a ma‘iya ṣabrā

Ia menjawab: “Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?”


73.

qāla lā tu’ākhiżnī bimā nasītu wa lā turhiqnī min amrī ‘usrā

Nabi Musa berkata: “Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu), dan janganlah engkau memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu)”.


74.

fanṭalaqā, ḥattā iżā laqiyā gulāman fa qatalahū qāla aqatalta nafsan zakiyyatam bigairi nafs, laqad ji’ta syai’an nukrā

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu ia membunuhnya. Nabi Musa berkata “Patutkah engkau membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa membunuh orang? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!”


75.

qāla alam aqul laka innaka lan tastaṭī‘a ma‘iya ṣabrā

Ia menjawab: “Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?”


76.

qāla in sa’altuka ‘an syai’im ba‘dahā fa lā tuṣāḥibnī, qad balagta mil ladunnī ‘użrā

Nabi Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi, sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku”.


77.

fanṭalaqā, ḥattā iżā atayā ahla qaryatinistaṭ‘amā ahlahā fa abau ay yuḍayyifūhumā fa wajadā fīhā jidāray yurīdu ay yanqaḍḍa fa aqāmah, qāla lau syi’ta lattakhażta ‘alaihi ajrā

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu ia membinanya. Nabi Musa berkata: “Jika engkau mahu, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya!”


78.

qāla hāżā firāqu bainī wa bainik, sa’unabbi’uka bita’wīli mā lam tastaṭi‘ ‘alaihi ṣabrā

Ia menjawab: “Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian yang dimusykilkan) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.


79.

ammas-safīnatu fa kānat limasākīna ya‘malūna fil-baḥri fa arattu an a‘ībahā, wa kāna warā’ahum malikuy ya’khużu kulla safīnatin gaṣbā

Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut, oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat.


80.

wa ammal-gulāmu fa kāna abawāhu mu’minaini fa khasyīnā ay yurhiqahumā ṭugyānaw wa kufrā

Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan perbuatan yang zalim dan kufur.


81.

fa aradnā ay yubdilahumā rabbuhumā khairam minhu zakātaw wa aqraba ruḥmā

Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa, dan lebih mesra kasih sayangnya.


82.

wa ammal-jidāru fa kāna ligulāmaini yatīmaini fil-madīnati wa kāna taḥtahū kanzul lahumā wa kāna abūhumā ṣāliḥā, fa arāda rabbuka ay yablugā asyuddahumā wa yastakhrijā kanzahumā raḥmatam mir rabbik, wa mā fa‘altuhū ‘an amrī, żālika ta’wīlu mā lam tasṭi‘ ‘alaihi ṣabrā

Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu, dan di bawahnya ada “harta terpendam” kepuyaan mereka, dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka). Dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya”.


83.

wa yas’alūnaka ‘an żil-qarnaīn, qul sa’atlū ‘alaikum minhu żikrā

Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad), mengenai Zulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepada kamu (wahyu dari Allah yang menerangkan) sedikit tentang perihalnya”:


84.

innā makkannā lahū fil-arḍi wa ātaināhu min kulli syai’in sababā

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan memerintah di bumi, dan Kami beri kepadanya jalan bagi menjayakan tiap-tiap sesuatu yang diperlukannya.


85.

fa atba‘a sababā

Lalu ia menurut jalan (yang menyampaikan maksudnya).


86.

ḥattā iżā balaga magribasy-syamsi wajadahā tagrubu fī ‘ainin ḥami’atiw wa wajada ‘indahā qaumā, qulnā yā żal-qarnaini immā an tu‘ażżiba wa immā an tattakhiża fīhim ḥusnā

Sehingga apabila ia sampai ke daerah matahari terbenam, ia mendapatinya terbenam di sebuah matair yang hitam berlumpur, dan ia dapati di sisinya satu kaum (yang kufur ingkar). Kami berfirman (dengan mengilhamkan kepadanya): “Wahai Zulkarnain! Pilihlah sama ada engkau hendak menyeksa mereka atau engkau bertindak secara baik terhadap mereka”.


87.

qāla ammā man ẓalama fa saufa nu‘ażżibuhū ṡumma yuraddu ilā rabbihī fa yu‘ażżibuhū ‘ażāban nukrā

Ia berkata: “Adapun orang yang melakukan kezaliman (kufur derhaka), maka kami akan menyeksanya, kemudian ia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu diazabkannya dengan azab seksa yang seburuk-buruknya.


88.

wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahū jazā’anil-ḥusnā, wa sanaqūlu lahū min amrinā yusrā

Adapun orang yang beriman serta beramal soleh, maka baginya balasan yang sebaik-baiknya, dan kami akan perintahkan kepadanya perintah-perintah kami yang tidak memberati”.


89.

ṡumma atba‘a sababā

Kemudian ia berpatah balik menurut jalan yang lain.


90.

ḥattā iżā balaga maṭli‘asy-syamsi wajadahā taṭlu‘u ‘alā qaumil lam naj‘al lahum min dūnihā sitrā

Sehingga apabila ia sampai di daerah matahari terbit, ia mendapatinya terbit kepada suatu kaum yang kami tidak menjadikan bagi mereka sebarang perlindungan daripadanya.


91.

każālik, wa qad aḥaṭnā bimā ladaihi khubrā

Demikianlah halnya, dan sesungguhnya Kami mengetahui secara meliputi akan segala yang ada padanya.


92.

ṡumma atba‘a sababā

kemudian ia berpatah balik menurut jalan yang lain.


93.

ḥattā iżā balaga bainas-saddaini wajada min dūnihimā qaumal lā yakādūna yafqahūna qaulā

Sehingga apabila ia sampai di antara dua gunung, ia dapati di sisinya satu kaum yang hampir-hampir mereka tidak dapat memahami perkataan.


94.

qālū yā żal-qarnaini inna ya’jūja wa ma’jūja mufsidūna fil-arḍi fa hal naj‘alu laka kharjan ‘alā an taj‘ala bainanā wa bainahum saddā

Mereka berkata: “wahai Zulkarnain, sesungguhnya kaum Yakjuj dan Makjuj sentiasa melakukan kerosakan di bumi, oleh itu, setujukah kiranya kami menentukan sejumlah bayaran kepadamu (dari hasil pendapatan kami) dengan syarat engkau membina sebuah tembok di antara kami dengan mereka?”


95.

qāla mā makkannī fīhi rabbī khairun fa a‘īnūnī biquwwatin aj‘al bainakum wa bainahum radmā

Dia menjawab: “(kekuasaan dan kekayaan) yang Tuhanku jadikan daku menguasainya, lebih baik (dari bayaran kamu), oleh itu bantulah daku dengan tenaga (kamu beramai-ramai) aku akan bina antara kamu dengan mereka sebuah tembok penutup yang kukuh.


96.

ātūnī zubaral-ḥadīd, ḥattā iżā sāwā bainaṣ-ṣadafaini qālanfukhū, ḥattā iżā ja‘alahū nāran qāla ātūnī ufrig ‘alaihi qiṭrā

Bawalah kepadaku ketul-ketul besi”, sehingga apabila ia terkumpul separas tingginya menutup lapangan antara dua gunung itu, ddia pun perintahkan mereka membakarnya dengan berkata: “Tiuplah dengan alat-alat kamu” sehingga apabila ia menjadikannya merah menyala seperti api, berkatalah dia: “Bawalah tembaga cair supaya aku tuangkan atasnya”.


97.

fa masṭā‘ū ay yaẓharūhu wa mastaṭā‘ū lahū naqbā

Maka mereka tidak dapat memanjat tembok itu, dan mereka juga tidak dapat menebuknya.


98.

qāla hāżā raḥmatum mir rabbī, fa iżā jā’a wa‘du rabbī ja‘alahū dakkā’, wa kāna wa‘du rabbī ḥaqqā

(Setelah itu) berkatalah Zulkarnain: “Ini ialah suatu rahmat dari Tuhanku, dalam pada itu, apabila sampai janji Tuhanku, Dia akan menjadikan tembok itu hancur lebur, dan adalah janji Tuhanku itu benar”.


99.

wa taraknā ba‘ḍahum yauma’iżiy yamūju fī ba‘ḍiw wa nufikha fiṣ-ṣūri fa jama‘nāhum jam‘ā

Dan Kami biarkan mereka pada hari itu (keluar beramai-ramai) bercampur-baur antara satu dengan yang lain, dan (kemudiannya) akan ditiup sangkakala, lalu Kami himpunkan makhluk-makhluk seluruhnya di Padang Mahsyar.


100.

wa ‘araḍnā jahannama yauma’iżil lil-kāfirīna ‘arḍā

Dan Kami perlihatkan neraka Jahannam, pada hari itu kepada orang-orang kafir, dengan pendedahan yang jelas nyata,


101.

allażīna kānat a‘yunuhum fī giṭā’in ‘an żikrī wa kānū lā yastaṭī‘ūna sam‘ā

(Iaitu) orang-orang yang matanya telah tertutup daripada melihat tanda-tanda yang membawa kepada mengingatiKu, dan mereka pula tidak dapat mendengar sama sekali.


102.

afa ḥasiballażīna kafarū ay yattakhiżū ‘ibādī min dūnī auliyā’, innā a‘tadnā jahannama lil-kāfirīna nuzulā

Maka adakah orang-orang kafir menyangka bahawa mereka mengambil hamba-hambaKu sebagai makhluk-makhluk yang disembah, selain daripadaKu, dapat menolong mereka? Sesungguhnya Kami telah sediakan neraka Jahannam bagi orang-orang kafir itu sebagai tempat tetamu.


103.

qul hal nunabbi’ukum bil-akhsarīna a‘mālā

Katakanlah (wahai Muhammad): “Mahukah Kami khabarkan kepada kamu akan orang-orang yang paling rugi amal-amal perbuatannya?


104.

allażīna ḍalla sa‘yuhum fil-ḥayātid-dun-yā wa hum yaḥsabūna annahum yuḥsinūna ṣun‘ā

(Iaitu) orang-orang yang telah sia-sia amal usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahawa mereka sentiasa betul dan baik pada apa sahaja yang mereka lakukan”.


105.

ulā’ikallażīna kafarū bi āyāti rabbihim wa liqā’ihī fa ḥabiṭat a‘māluhum fa lā nuqīmu lahum yaumal-qiyāmati waznā

Merekalah orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat Tuhan mereka dan akan pertemuan denganNya, oleh itu gugurlah amal-amal mereka, maka akibatya Kami tidak akan memberi sebarang timbangan untuk menilai amal mereka, pada hari kiamat kelak.


106.

żālika jazā’uhum jahannamu bimā kafarū wattakhażū āyātī wa rusulī huzuwā

(Mereka yang bersifat) demikian, balasannya neraka Jahannam, disebabkan mereka kufur ingkar, dan mereka pula menjadikan ayat-ayatKu dan Rasul-rasulKu sebagai ejek-ejekan.


107.

innallażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kānat lahum jannātul-firdausi nuzulā

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, disediakan bagi mereka Syurga-syurga Firdaus, sebagai tempat tetamu (yang serba mewah).


108.

khālidīna fīhā lā yabgūna ‘anhā ḥiwalā

Mereka kekal di dalamnya, (dan) tidak ingin berpindah daripadanya.


109.

qul lau kānal-baḥru midādal likalimāti rabbī lanafidal-baḥru qabla an tanfada kalimātu rabbī wa lau ji’nā bimiṡlihī madadā

Katakanlah (wahai Muhammad): “Kalaulah semua jenis lautan menjadi tinta untuk menulis Kalimah-kalimah Tuhanku, sudah tentu akan habis kering lautan itu sebelum habis Kalimah-kalimah Tuhanku, walaupun Kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya, sebagai bantuan”.


110.

qul innamā ana basyarum miṡlukum yūḥā ilayya annamā ilāhukum ilāhuw wāḥid, fa man kāna yarjū liqā’a rabbihī falya‘mal ‘amalan ṣāliḥaw wa lā yusyrik bi‘ibādati rabbihī aḥadā

Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang Satu, Oleh itu, sesiapa yang percaya dan berharap akan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan sesiapapun dalam ibadatnya kepada Tuhannya”.

Kelebihan Surah Al Kahfi

Apakah kelebihan mengamalkan Surah Al Kahfi?

Antara kelebihan apabila mengamalkan surah ini ialah:

1. Dipancarkan Cahaya Antara Dua Jumaat

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA:

Barangsiapa membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumaat, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumaat.”

(HR Al-Hakim 2/368, al-Baihaqi 3/249. Ibnu Hajar kata ‘Hadis Hasan’ dalam Takhrij al-Azkar. Beliau kata hadis ini paling kuat tentang surah Al-Kahfi)

Dalam sebuah lagi hadis, dari Abu Sa’id al-Khudri RA bahawa Nabi SAW bersabda:

Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jumaat, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.

(Sunan Ad-Darimi: 3273)

2. Terselamat Daripada Fitnah Dajjal

Di dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, daripada Abu Darda’ RA, bahawa Nabi SAW bersabda:

Sesiapa yang menghafal 10 ayat daripada awal surah al-Kahfi akan terselamat daripada fitnah Dajjal.

Hadith riwayat Muslim:

3. Turunnya Rahmat Dan Ketenangan

Daripada al-Bara’ bin ‘Azib RA katanya,

“Ada seorang lelaki membaca surah al-Kahfi dan disisinya seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali, kemudian dia nampak awan menaunginya, dan awan itu juga menaungi kudanya, tetapi kudanya lari daripada lindungan awan itu. Keesokannya lelaki itu pergi berjumpa dengan Nabi SAW lalu menceritakan apa yang telah berlaku kepadanya”,

Baginda pun bersabda,

“Perkara yang berlaku kepada engkau itu adalah al-Sakinah (ketenangan dan rahmat yang disertai dengan para malaikat) yang turun untuk mendengar bacaan ayat-ayat al-Qur’an”.

(Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

4. Menceritakan Realiti Kehidupan Sebenar

Menurut petikan buku Tafsir dan Tadabbur Surah Al-Kahfi tulisan Datuk Dr Haji Zahazan Mohamed, surah ini bukan sahaja menceritakan realiti kehidupan sebenar, tetapi membuktikan bahawa setiap yang dicatat dalam al-Quran itu bukanlah suatu kebetulan sebaliknya menjelaskan lagi setiap kebenaran.

Jika diteliti, surah ini mempunyai satu tema iaitu pertembungan antara iman dengan keduniaan.

5. Iktibar Untuk Menghadapi Ujian Akhir Zaman

Secara ringkasnya, terdapat 4 kisah yang dsebutkan melalui surah Al-Kahfi iaitu:

  • Kisah penghuni gua – Mengisahkan tentang sekumpulan pemuda (Ashabul Kahfi) yang diuji keimanan sehingga berlindung dalam gua. Kisah ini menuntut kita agar bersahabat dengan orang soleh dan saling membimbing antara satu sama lain dalam memelihara akidah serta iman kepada Allah.
  • Kisah 2 pemilik kebun – Mengisahkan tentang ujian dan fitnah harta benda yang menimpa mereka. Ia mengingatkan kita kepada kehidupan dunia yang akan musnah dan hari akhirat yang kekal selamanya.
  • Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir – Mengisahkan tentang ujian serta fitnah ilmu. Ia mengingatkan kita agar sentiasa mengamalkan sikap tawaduk dan rendah diri walaupun dikurniakan ilmu yang tinggi.
  • Kisah Zulqarnain, Yakjuj dan Makjuj – Mengisahkan tentang Zulqarnain yang berhadapan ujian dan fitnah berkaitan kuasa. Ia mengingatkan kita kepentingan sikap tawaduk dan mengakui kekuasaan hanyalah daripada Allah.

Setiap kisah ini mempunyai banyak pengajaran yang boleh dijadikan iktibar untuk kita semua.

Transliterasi Surah-Surah lain

Antara surah lain yang sudah ditambah tranliterasi untuk membantu anda:

Nota Penutup

Semoga Transliterasi Rumi ini dapat membantu anda yang sukar membaca / sedang belajar mengenal al-Quran.

Sememangnya penggunaan transliterasi rumi adalah kurang tepat dari segi sebutan, namun saya berharap panduan ini dapat membantu sedikit sebanyak saudara-saudari sekalian yang memerlukan bantuan sebegini.

Saya berdoa agar Allah memudahkan urusan kita semua belajar membaca al-Quran dan memperoleh barakah daripadanya.

Semoga Allah melapangkan hati kita dan dibukakan hati kita kepada ilmu.

Sesungguhnya Islam itu agama rahmat dan Allah jualah Maha Memberi Rahmat.

Suka Apa Yang Anda Baca?

Daftarkan nama dan email anda untuk mendapatkan panduan dan perkongsian berkualiti terus ke inbox anda secara PERCUMA!







Privasi anda adalah keutamaan kami. Kami tidak bertolak ansur dengan spam dan kebocoran maklumat kepada pihak ketiga.

Tinggalkan Komen Anda..

1 Comment
Komen Terbaru
Komen Terdahulu Paling disukai
Inline Feedbacks
View all comments
Sarimah
1 hari yang lalu

Tersangat bagus dan berguna kepada saya alhamdulillah